TOBAT
SANG GUS
Turun
dari Bus ...
Udara
masih begitu panas hari ini. Semakin banyak saja bangunan –
bangunan berkaca yang membuat pantulan luar biasa dan menyebabkan
penipisan ozon bumi yang kemudian kita menyebutnya global warming
atau pemanasan global. Manusia tak sadar juga betapa pelik alam ini,
begitu marah mereka karena merasa tak diacuhkan. Penebangan hutan
secara bebas, sungai sebagai media pembuangan sampah, dan banyak lagi
kerusakan – kerusakan alam yang dilakukan manusia yang pada
akhirnya merugikan mereka pula. Sungguh dengan bencana – bencana
beberapa tahun belakangan ini, Allah telah mengingatkan kepada
manusia akan kebesaranNya, akan kemurkaanNya bahwa manusia sudah
banyak melupakan Tuhannya. Sehingga tak pernah mau bersyukur apa yang
sudah ia dapat, dan sehingga pula ia menjadi orang – orang yang
Kapitalis dan Hedonis, yaitu orang – orang yang gila akan keindahan
dunia, dan selalu merasa kurang dibuatnya. Ah... manusia.
Aku
segera masuk kedalam kelas, pikiranku masih saja terpana dengan
sosok pemuda aneh tadi. Penampilannya itu lho,,, kok gak sesuai
dengan bacaannya. Baru kali ini aku melihat seorang preman baca buku
panduan sholat. Ahh.. aku jadi penasaran, siapa dia sebenarnya.
“Hayoo...
lagi mikir jorok ya?”. Ledek Mira teman sekelasku. Sebenarnya
namanya adalah Jumirah, tapi ia lebih suka di panggil Mira.
“ich..
apaan sih, gak kok. Kamu tuch yang SuKirJo.”
“siapa
tuch SuKirJo, tetanggamu?”.
“Huss..
bukan! SuKirJo itu ...Suka Mikir Jorok, kayak kamu itu. hahahaha”
Wajah
cantik Mira berubah memerah dan berlari mengejarku. Aku terbirit
sambil masih menahan geli.
“Awass
kamu Husna!!”.
Aku
tinggalkan Mira dari kelas ke perpustakaan fakultas. Masih ada waktu
setengah jam untuk sekedar membaca-baca sebelum kuliah Tafsir di
mulai. Ku buka cerpen berjudul Cinta
tak Kenal Kasta
karangan Elsa Sarah itu. Buku ini bercerita tentang dua sejoli dengan
jauh perbedaan status.
Tiba
– tiba aku teringat kembali dengan pemuda tadi. Kini ku tahu
ternyata ia adalah seorang anak kyai- Gus-red.
Aku mengetahuinya dari seorang bapak yang ku temui tadi siang ketika
usai mengerjakan sholat dzuhur di Masjid Al Mahbub, yang kemudian aku
mengetahuinya bahwa ia adalah kyai masjid tersebut sekaligus ayah
dari Syaif El Habib. Yups! Orang yang selama ini aku anggap preman
itu bernama Syaif El Habib. Aku sempat di buat takjub dengan
pengakuan kyai yang juga bernama Kyai Habib itu. Menurut
penuturannya, El –begitu ia memanggil putranya- sebenarnya memang
seorang yang baru saja keluar dari dunia anak muda yang sarat akan
negatif itu. Dan saat ini ia sedang menjalani proses belajar islam,
terutama sholat. Sebetulnya ia tak buta – buta amat tentang islam,
tapi dia bilang, ia lupa bagaimana cara – caranya, karena sudah
sekian lama ia tinggalkan kegiatan ritual islami itu.
Satu
tahun kemudian . . .
Lantunan
kidung cinta mengalun begitu indah nan merdu, ketika ia mendekat ke
tempat dimana aku berdiri sekarang. Seakan angin semilir menelusup
halus ke ruang hatiku. Tak tau apa yang akan ia tuju, kenapa ia
berjalan menuju ke arahku. Semakin ia mendekat, jantungkupun berdegup
begitu hebatnya.
“Husna,
Are u ok?” tanya Mira kepadaku ketika melihat wajahku yang berubah
pucat pasi.
“i’m
still fine, Mir”. Jawabku terbata.
“tapi
kamu tak terlihat baik – baik saja Na..”.
Aku
tak bisa memungkiri, aku begitu gugup dan takut bertemu dengan pemuda
gagah, sholeh, bijaksana dan berwibawa ini. Ia mendekat, menyapa,
mengajakku berbicara dan . . .
“Brak!!”
aku terjatuh pingsan.
Dalam
hatiku berkata, “apa – apaan aku ini, ia hanya menyapa dan
mengajakku berbicara. Tapi argh!! Percakapan ini sangat tak biasa,
sebelumnya ia tak pernah ingin sedekat ini denganku. Ia sungguh –
sungguh ingin lebih dekat denganku”. Beberapa menit lalu ....
“
Husna, aku ingin
mengatakan sesuatu kepadamu”. Katanya perlahan, sopan, dan dengan
wibawa tampannya.
Itulah
yang kemudian membuatku sekarang terbaring di ruangan sejuk dengan
bau khas obat – obatan ini. keterkejutan yang amat hebat
menyergapku. Karena sebelumnya tak pernah aku alami perasaan
sedahsyat ini, ia hanya mengucapkan sebait kalimat. Tapi itu begitu
membuatku lemah tak berdaya sekarang. Aku telah lama mengidap gejala
jantung. Dan kali ini, bukan gejala lagi. Aku telah terkena serangan
jantung.
El
yang sedari tadi menungguiku di ruang opname, tak hentinya
melantunkan ayat suci untuk kesembuhanku. Tak hentinya ia meneteskan
air dari matanya yang senantiasa terjatuh di balik punggung tanganku.
Ku
dengar suara sepatu berbahan karet, berlari – lari kecil menuju ke
ruanganku. Dan membuka pintu dengan tergesa-gesa sepertinya.
“Husna....
kenapa kau nak, bangun nak..”. iya, ia adalah ibuku. Ibu memelukku,
sekian lama. Air matanya membasahi sebagian selimut yang disediakan
perawat rumah sakit itu untukku.
“siapa
nak ini?”. tanya ibu pada El.
“saya
Syeif El Habib bu, panggil saja El. Sayalah yang menyebabkan Husna
seperti ini bu”.
“apa
maksutmu anak muda?” tanya ibu tidak mengerti.
Lalu
El membawa ibu ke luar ruangan opname ku. Entah apa yang akan mereka
bicarakan, yang jelas aku yakin mereka sedang membicarakan keadaanku
dan kronologis kejadian aku sampai pada rumah sakit ini. tak lama
kemudian mereka kembali ke dalam ruangan, dan kini ibu berganti
posisi dengan El , disampingku. Ibu membisikan sesuatu, menanyakan
hal penting kepadaku. Dan seandainya saja aku dapat membuka mata dan
berbicara, maka aku akan memeluk ibu dan mengangguk mantap. Namun
apalah dayaku. Aku hanya diberi pilihan untuk menjawab dengan air
mata. Jika air mata yang aku keluarkan hangat, maka itu jawaban untuk
‘tidak’, jika air mata yang aku keluarkan dingin, maka itu
adalah jawaban untuk ‘iya’. Aku sangat bahagia di tengah
keadaanku yang tak membahagiakan ini.
Keesokan
harinya...
Segenap
keluarga besarku berkumpul di ruanganku, aku masih berbaring lemah
tak berdaya. Akad nikah segera akan dimulai. Tapi , El tak jua
datang.
Tiba-tiba
seorang satpam masuk menemui Kyai Habib yang sedari tadi duduk di
sofa panjang yang sudah di siapkan untuk ijab qobul itu. Sang satpam
dengan nafas terengah – engah berkata “pak, apakah bapak adalah
ayah dari Syeif El Habib?”.
“iya,
betul. Bagaimana anda bisa tau?” jawab calon mertuaku itu heran.
“saya
menemukan seorang jenazah atas nama Syeif El Habib Bin Habib di jalan
raya depan Rumah sakit ini akibat kecelakaan truk. Beliau meninggal
seketika setelah kecelakaan terjadi”. Kami semua yang mendengar
berita tersebut sangat terkejut. Ibu langsung memelukku dengan erat.
Aku sendiri, ingin sekali berontak menangis sejadinya dan seolah –
olah ingin protes kepada Sang Khaliq kenapa Ia mengambil kebahagiaan
yang hampir saja aku raih. Oh... Allah, ini sungguh berat. Aku
mohon dengan sangat ya Allah kembalikan dia ke dunia ini. berita dari
satpam tadi tidak benar kan Ya Allah?
Tiba
– tiba Mas Fari kakak dari El menyela pembicaraan kyai Habib dan
Satpam yang sedang menceritakan kronologis kejadian kecelakaan itu.
“tunggu
Bah,apakah tidak sebaiknya kita melihat dulu apakah benar jenazah
yang ditemukan bpak ini adalah El?”. Ucap Kak Fari pada Kyai Habib.
Dengan
segera dan tanpa banyak kata kyai Habib bergegas meninggalkan
kamarku. Identitas yang ditemukan oleh satpam tadi memang benar milik
El. Namun . . .
“Pak
Bunga mawarnya berapa harganya?”tanya seorang pemuda pada penjual
bunga dekat rumah sakit ini.
Fari
berbicara pada hatinya “sepertinya aku mengenal suara ini”. dan
ketika fari dan kyai menengok ke arah sumber suara itu, mereka
mendapati El bersama setangkai bunga mawar merah kesukaan Husna.
“El?????????”
ucap kak Fari dan kyai Habib hampir bebarengan.
“kenapa
bah, kak Fari?”. Jawab Fari tak kalah terkejutnya.
“kenapa
wajah kalian terlihat panik sekali, ada apa dengan Husna?”.Lanjut
El.
“kami
sedang mencarimu El. Bergegaslah, akad nikahmu akan segera dimulai”.
Ucap Kak Fari dengan menggandeng tangan kanan El.
Sesampai
di kamarku, dengan perasaan haru semua orang yang berada dalam
ruangan itu menyambut El dengan senyuman, ada juga yang menangis
tersedu. El tidak tahu bahwa sesungguhnya semua orang telah
menantinya dengan cemas, apalagi aku. Aku sangat mengkhawatirkanmu
calon suamiku. Semua sepakat untu tidak menceritakan penuturan satpam
tadi pada El. Satpam itu hanya menemukan KTP El yang terjatuh ketika
sedang membeli bunga, dan kebetulan saja KTP itu terbawa angin dan
terhenti di dekat tempat kejadian kecelakaan yang kebetulan lagi, si
korban tidak memiliki kartu identitas. Fyuhhh... Pak satpam oh..pak
satpam.. bisa saja membuat kami semua kebingungan.
Detik
– detik menegangkan . . .
“saya
terima nikahnya Husna Zyfa Rosyada Binti Muhammad Yasin dengan mas
kawin tersebut di bayar tunai”.
Dengan
lantang El mengucapkan qobul nikah. Dan seisi ruangan dibuat haru
olehnya. Begitu juga aku. Aku begitu bahagia, walaupun aku tak dapat
melihat moment bersejarah ini setidaknya aku dapat merasakan betapa
orang – orang di sekitarku sedang berbahagia melihatku bahagia, dan
sedang berduka melihat keadaanku yang semakin kritis. Nafasku tak
teratur lagi. Dokter beserta perawat – perawatnya telah menyerah.
“Husna,
bangunlah istriku. Bangun sayang. . . ini aku El suamimu. Kita sudah
resmi menikah dan akan membangun rumah tangga yang bahagia sayang.
Bangunlah, buka matamu”. Ku rasakan sejuk menelusup di jantungku
yang sedang berjuang mempertahankan hidup ini. tak henti – hentinya
El mengucap takbir, dan syahadat di telingaku. Sungguh, aku masih
ingin tinggal di dunia ini Ya Allah. Namun tangan Allah lebih
berkuasa. Dan aku kini semakin merasakan kosong, kosong, dan
tersadar.
Ternyata
aku hanya bermimpi. Huh!!.
Oh Gus El. .
.
sang Brandhal
yang bertobat.
By:Yenny
Farida
Tidak ada komentar:
Posting Komentar