Senin, 05 Desember 2011

TOBAT SANG GUS

TOBAT SANG GUS
Turun dari Bus ...
Udara masih begitu panas hari ini. Semakin banyak saja bangunan – bangunan berkaca yang membuat pantulan luar biasa dan menyebabkan penipisan ozon bumi yang kemudian kita menyebutnya global warming atau pemanasan global. Manusia tak sadar juga betapa pelik alam ini, begitu marah mereka karena merasa tak diacuhkan. Penebangan hutan secara bebas, sungai sebagai media pembuangan sampah, dan banyak lagi kerusakan – kerusakan alam yang dilakukan manusia yang pada akhirnya merugikan mereka pula. Sungguh dengan bencana – bencana beberapa tahun belakangan ini, Allah telah mengingatkan kepada manusia akan kebesaranNya, akan kemurkaanNya bahwa manusia sudah banyak melupakan Tuhannya. Sehingga tak pernah mau bersyukur apa yang sudah ia dapat, dan sehingga pula ia menjadi orang – orang yang Kapitalis dan Hedonis, yaitu orang – orang yang gila akan keindahan dunia, dan selalu merasa kurang dibuatnya. Ah... manusia.
Aku segera masuk kedalam kelas, pikiranku masih saja terpana dengan sosok pemuda aneh tadi. Penampilannya itu lho,,, kok gak sesuai dengan bacaannya. Baru kali ini aku melihat seorang preman baca buku panduan sholat. Ahh.. aku jadi penasaran, siapa dia sebenarnya.
Hayoo... lagi mikir jorok ya?”. Ledek Mira teman sekelasku. Sebenarnya namanya adalah Jumirah, tapi ia lebih suka di panggil Mira.
ich.. apaan sih, gak kok. Kamu tuch yang SuKirJo.”
siapa tuch SuKirJo, tetanggamu?”.
Huss.. bukan! SuKirJo itu ...Suka Mikir Jorok, kayak kamu itu. hahahaha”
Wajah cantik Mira berubah memerah dan berlari mengejarku. Aku terbirit sambil masih menahan geli.
Awass kamu Husna!!”.
Aku tinggalkan Mira dari kelas ke perpustakaan fakultas. Masih ada waktu setengah jam untuk sekedar membaca-baca sebelum kuliah Tafsir di mulai. Ku buka cerpen berjudul Cinta tak Kenal Kasta karangan Elsa Sarah itu. Buku ini bercerita tentang dua sejoli dengan jauh perbedaan status.
Tiba – tiba aku teringat kembali dengan pemuda tadi. Kini ku tahu ternyata ia adalah seorang anak kyai- Gus-red. Aku mengetahuinya dari seorang bapak yang ku temui tadi siang ketika usai mengerjakan sholat dzuhur di Masjid Al Mahbub, yang kemudian aku mengetahuinya bahwa ia adalah kyai masjid tersebut sekaligus ayah dari Syaif El Habib. Yups! Orang yang selama ini aku anggap preman itu bernama Syaif El Habib. Aku sempat di buat takjub dengan pengakuan kyai yang juga bernama Kyai Habib itu. Menurut penuturannya, El –begitu ia memanggil putranya- sebenarnya memang seorang yang baru saja keluar dari dunia anak muda yang sarat akan negatif itu. Dan saat ini ia sedang menjalani proses belajar islam, terutama sholat. Sebetulnya ia tak buta – buta amat tentang islam, tapi dia bilang, ia lupa bagaimana cara – caranya, karena sudah sekian lama ia tinggalkan kegiatan ritual islami itu.
Satu tahun kemudian . . .
Lantunan kidung cinta mengalun begitu indah nan merdu, ketika ia mendekat ke tempat dimana aku berdiri sekarang. Seakan angin semilir menelusup halus ke ruang hatiku. Tak tau apa yang akan ia tuju, kenapa ia berjalan menuju ke arahku. Semakin ia mendekat, jantungkupun berdegup begitu hebatnya.
Husna, Are u ok?” tanya Mira kepadaku ketika melihat wajahku yang berubah pucat pasi.
i’m still fine, Mir”. Jawabku terbata.
tapi kamu tak terlihat baik – baik saja Na..”.
Aku tak bisa memungkiri, aku begitu gugup dan takut bertemu dengan pemuda gagah, sholeh, bijaksana dan berwibawa ini. Ia mendekat, menyapa, mengajakku berbicara dan . . .
“Brak!!” aku terjatuh pingsan.
Dalam hatiku berkata, “apa – apaan aku ini, ia hanya menyapa dan mengajakku berbicara. Tapi argh!! Percakapan ini sangat tak biasa, sebelumnya ia tak pernah ingin sedekat ini denganku. Ia sungguh – sungguh ingin lebih dekat denganku”. Beberapa menit lalu ....
Husna, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu”. Katanya perlahan, sopan, dan dengan wibawa tampannya.
Itulah yang kemudian membuatku sekarang terbaring di ruangan sejuk dengan bau khas obat – obatan ini. keterkejutan yang amat hebat menyergapku. Karena sebelumnya tak pernah aku alami perasaan sedahsyat ini, ia hanya mengucapkan sebait kalimat. Tapi itu begitu membuatku lemah tak berdaya sekarang. Aku telah lama mengidap gejala jantung. Dan kali ini, bukan gejala lagi. Aku telah terkena serangan jantung.
El yang sedari tadi menungguiku di ruang opname, tak hentinya melantunkan ayat suci untuk kesembuhanku. Tak hentinya ia meneteskan air dari matanya yang senantiasa terjatuh di balik punggung tanganku.
Ku dengar suara sepatu berbahan karet, berlari – lari kecil menuju ke ruanganku. Dan membuka pintu dengan tergesa-gesa sepertinya.
Husna.... kenapa kau nak, bangun nak..”. iya, ia adalah ibuku. Ibu memelukku, sekian lama. Air matanya membasahi sebagian selimut yang disediakan perawat rumah sakit itu untukku.
siapa nak ini?”. tanya ibu pada El.
saya Syeif El Habib bu, panggil saja El. Sayalah yang menyebabkan Husna seperti ini bu”.
apa maksutmu anak muda?” tanya ibu tidak mengerti.
Lalu El membawa ibu ke luar ruangan opname ku. Entah apa yang akan mereka bicarakan, yang jelas aku yakin mereka sedang membicarakan keadaanku dan kronologis kejadian aku sampai pada rumah sakit ini. tak lama kemudian mereka kembali ke dalam ruangan, dan kini ibu berganti posisi dengan El , disampingku. Ibu membisikan sesuatu, menanyakan hal penting kepadaku. Dan seandainya saja aku dapat membuka mata dan berbicara, maka aku akan memeluk ibu dan mengangguk mantap. Namun apalah dayaku. Aku hanya diberi pilihan untuk menjawab dengan air mata. Jika air mata yang aku keluarkan hangat, maka itu jawaban untuk ‘tidak’, jika air mata yang aku keluarkan dingin, maka itu adalah jawaban untuk ‘iya’. Aku sangat bahagia di tengah keadaanku yang tak membahagiakan ini.
Keesokan harinya...
Segenap keluarga besarku berkumpul di ruanganku, aku masih berbaring lemah tak berdaya. Akad nikah segera akan dimulai. Tapi , El tak jua datang.
Tiba-tiba seorang satpam masuk menemui Kyai Habib yang sedari tadi duduk di sofa panjang yang sudah di siapkan untuk ijab qobul itu. Sang satpam dengan nafas terengah – engah berkata “pak, apakah bapak adalah ayah dari Syeif El Habib?”.
iya, betul. Bagaimana anda bisa tau?” jawab calon mertuaku itu heran.
saya menemukan seorang jenazah atas nama Syeif El Habib Bin Habib di jalan raya depan Rumah sakit ini akibat kecelakaan truk. Beliau meninggal seketika setelah kecelakaan terjadi”. Kami semua yang mendengar berita tersebut sangat terkejut. Ibu langsung memelukku dengan erat. Aku sendiri, ingin sekali berontak menangis sejadinya dan seolah – olah ingin protes kepada Sang Khaliq kenapa Ia mengambil kebahagiaan yang hampir saja aku raih. Oh... Allah, ini sungguh berat. Aku mohon dengan sangat ya Allah kembalikan dia ke dunia ini. berita dari satpam tadi tidak benar kan Ya Allah?
Tiba – tiba Mas Fari kakak dari El menyela pembicaraan kyai Habib dan Satpam yang sedang menceritakan kronologis kejadian kecelakaan itu.
tunggu Bah,apakah tidak sebaiknya kita melihat dulu apakah benar jenazah yang ditemukan bpak ini adalah El?”. Ucap Kak Fari pada Kyai Habib.
Dengan segera dan tanpa banyak kata kyai Habib bergegas meninggalkan kamarku. Identitas yang ditemukan oleh satpam tadi memang benar milik El. Namun . . .
Pak Bunga mawarnya berapa harganya?”tanya seorang pemuda pada penjual bunga dekat rumah sakit ini.
Fari berbicara pada hatinya “sepertinya aku mengenal suara ini”. dan ketika fari dan kyai menengok ke arah sumber suara itu, mereka mendapati El bersama setangkai bunga mawar merah kesukaan Husna.
El?????????” ucap kak Fari dan kyai Habib hampir bebarengan.
kenapa bah, kak Fari?”. Jawab Fari tak kalah terkejutnya.
kenapa wajah kalian terlihat panik sekali, ada apa dengan Husna?”.Lanjut El.
kami sedang mencarimu El. Bergegaslah, akad nikahmu akan segera dimulai”. Ucap Kak Fari dengan menggandeng tangan kanan El.
Sesampai di kamarku, dengan perasaan haru semua orang yang berada dalam ruangan itu menyambut El dengan senyuman, ada juga yang menangis tersedu. El tidak tahu bahwa sesungguhnya semua orang telah menantinya dengan cemas, apalagi aku. Aku sangat mengkhawatirkanmu calon suamiku. Semua sepakat untu tidak menceritakan penuturan satpam tadi pada El. Satpam itu hanya menemukan KTP El yang terjatuh ketika sedang membeli bunga, dan kebetulan saja KTP itu terbawa angin dan terhenti di dekat tempat kejadian kecelakaan yang kebetulan lagi, si korban tidak memiliki kartu identitas. Fyuhhh... Pak satpam oh..pak satpam.. bisa saja membuat kami semua kebingungan.
Detik – detik menegangkan . . .
saya terima nikahnya Husna Zyfa Rosyada Binti Muhammad Yasin dengan mas kawin tersebut di bayar tunai”.
Dengan lantang El mengucapkan qobul nikah. Dan seisi ruangan dibuat haru olehnya. Begitu juga aku. Aku begitu bahagia, walaupun aku tak dapat melihat moment bersejarah ini setidaknya aku dapat merasakan betapa orang – orang di sekitarku sedang berbahagia melihatku bahagia, dan sedang berduka melihat keadaanku yang semakin kritis. Nafasku tak teratur lagi. Dokter beserta perawat – perawatnya telah menyerah.
Husna, bangunlah istriku. Bangun sayang. . . ini aku El suamimu. Kita sudah resmi menikah dan akan membangun rumah tangga yang bahagia sayang. Bangunlah, buka matamu”. Ku rasakan sejuk menelusup di jantungku yang sedang berjuang mempertahankan hidup ini. tak henti – hentinya El mengucap takbir, dan syahadat di telingaku. Sungguh, aku masih ingin tinggal di dunia ini Ya Allah. Namun tangan Allah lebih berkuasa. Dan aku kini semakin merasakan kosong, kosong, dan tersadar.
Ternyata aku hanya bermimpi. Huh!!. Oh Gus El. . . sang Brandhal yang bertobat.

By:Yenny Farida

Tidak ada komentar:

Posting Komentar